Ngeseks Dengan Robot? Kenapa Tidak!

Dalam film I, ROBOT digambarkan bahwa nanti pada tahun 2035, robot akan begitu umum sehingga tak beda lagi dengan mobil atau peralatan lain. Mungkin itu cuma sekedar film, namun seorang pakar ‘kepandaian buatan’ memprediksikan bahwa sekitar tahun 2050 nanti manusia mungkin akan mulai terlibat hubungan yang lebih ‘dalam’ dengan robot ini.

David Levy, sang pakar AI (artificial intelligence) melihat adanya kemungkinan bahwa manusia dan robot akan terlibat hubungan emosional bahkan seksual dengan robot-robot yang makin hari makin canggih ini.

Walaupun saat ini penggunaan ‘sex doll‘ sudah bukan lagi barang yang tabu di negara-negara besar, namun tingkat kemampuan boneka ini belumlah mencapai tingkat maksimum. Namun dalam waktu dekat, David memprediksikan bahwa sex robot yang akan memiliki kemampuan jauh lebih bagus dari sekedar sex doll akan mulai diperkenalkan.

Dalam sebuah artikel yang dimuat Metro.co.uk, Rabu (16/04/08), bahkan menurut David, para wanita pun menyukai ide ini.

“Berhubungan seksual dengan robot, kenapa tidak,” ungkap salah seorang wanita lewat sebuah email. “Mereka tidak terikat, tidak ada kemungkinan penyakit seksual menular, dan mungkin lebih ‘hebat’ di atas ranjang,” lanjut wanita tadi dengan antusias.

Bahkan bisa jadi sex robot ini tidak cuma jadi sarana pemuas hasrat seksual saja. Dengan teknologi AI yang canggih, bisa jadi manusia akan terlibat secara emosional juga dengan robot mereka. Tapi tentu saja akan ada kesan artifisial karena emosi yang diprogramkan hanya akan bekerja sesuai program yang ditanamkan.

Lebih jauh lagi David bahkan memprediksikan bahwa robot pun akan memiliki hak-hak layaknya manusia biasa. Pernikahan antara manusia dengan robot bisa saja terjadi. “Jika seseorang bisa jatuh cinta pada robot, bisa saja mereka melangsungkan pernikahan” ungkap David.

Sementara di sisi lain, Andrew Keen, seorang kritikus teknologi menganggap hal ini mustahil. “Mereproduksi kompleksitas kondisi manusia ke dalam mesin adalah sebuah penghinaan. Tak mungkin ada manusia yang jatuh cinta pada robot walaupun mereka adalah penggemar Star Trek atau Doctor Who, sanggah Andrew.

“Hubungan antara manusia dengan robot dapat berdampak buruk pada peri laku manusia,” ungkap Dr Glyn Hudson-Allez seorang psychosexual therapist. “Semakin banyak menghabiskan waktu dengan ‘rekan’ yang tidak mampu memberikan respon, maka kemampuan menghadapi manusia yang mampu merespon akan semakin buruk,” lanjut Dr Glyn.

Menanggapi sanggahan ini, David tidak membantah bahwa sex robot ini kemungkinan besar hanya akan diminati mereka yang merasa terasing secara sosial.

Juni 17, 2008. Tag: . Bercinta, Lifestyle, Snapshot, Techno. Tinggalkan komentar.

Menapaki Era Uang Elekronik

Peran uang dalam kehidupan masyarakat memang sangat signifikan khususnya sebagai alat pembayaran beragam barang dan jasa. Dalam perkembangannya, uang tak lagi terbatas pada bentuk tunai, tetapi berupa cek, kartu kredit dan uang elektronik sama-sama dapat diterima sebagai alat pembayaran.

Salah satu inovasi yang dilakukan supermarket di Belanda menerapkan sistem pembayaran online terbaru berbasis ponsel akhir tahun lalu. Teknologi yang digunakan adalah NFC (Near Field Communications) yang mendukung layanan pertukaran data, termasuk dalam jarak dekat. Selain efektif dalam memngurangi antrian pembayaran dan menghemat waktu belanja, pembeli tak perlu lagi merogoh dalam-dalam dompetnya untuk membayar belanjaan.

Tak pelak, kemudahan dan keuntungan yang ditawarkan transaksi secara digital membuat penggunaannya semakin meluas. Transaksi perbankan, perdagangan, pelayanan jasa hingga jual beli recehan pun kini bisa dilakukan secara elektronik. Di masa mendatang, semakin gencarnya transaksi elektronik bakal membentuk masyarakat yang bertransaksi tanpa uang tunai (less cash society), karena pembayaran cukup dilakukan melalui perangkat atau jaringan tertentu tanpa perlu memegang uang cash.

Belakangan, di tanah air, transaksi lewat ponsel untuk melakukan micro payment pun sudah mulai dikembangkan. Pada layanan T-cash dari Telkomsel misalnya, dengan mendepositokan sejumlah rupiah ke dalam akun tertentu menjadi uang elektronik, maka seseorang bisa melakukan transaksi pembelian di merchant yang ditunjuk melalui ponselnya.

Transaksi kecil-kecil di bawah Rp. 100.000 memang masih belum banyak disasar perbankan. Tak heran, area ini coba dibidik oleh operator selular yang menyediakan layanan via ponsel. Apalagi transaksi seperti ini cukup memudahkan konsumen karena mereka tak perlu lagi mengantongi uang tunai untuk belanja, cukup memakai ponsel. Sederhananya, lama-lama ponsel bisa digunakan belanja barang-barang kebutuhan seperti sabun, rokok, hingga popok bayi.

Potensi transaksi elektronik lewat ponsel ini memang menarik dan kelihatan menjanjikan. Ini juga yang membuat operator telekomunikasi seperti adu cepat menyiapkan layanan uang elektronik, antara lain mobile wallet yang berfunsi sebagai dompet penyimpan rupiah pada ponsel. Lewat mobile wallet, pengguna ponsel di Indonesia bisa melakukan transaksi micro payment non-bank.

Sebagai informasi, di Philipina, sekitar 42% masyarakatnya menggunakan layanan SMS dari operator Globe Telecom yakni G-Cash saat melakukan pembayaran mikro, sehingga rata-rata transaksinya mencapai 100 juta dollar AS atau setara dengan jumlah 1,3 juta pelanggan. Demikian pula masyarakat negara Eropa dan Jepang.

Menilik hal tersebut, bisa dibilang masa depan transaksi elektronik dan mobile banking via ponsel bakal cerah. Sekedar catatan, biro penelitian Juniper Research memperkirakan jumlah pengguna yang mengakses layanan bank via ponsel atau mobile bangking bakal mencapai jumlah lebih besar sekitar 816 juta orang di tahun 2011. Angka tersebut adalah peningkatan sampai sepuluh kali lipat dari jumlah pengguna di 2007.

Tampaknya dalam waktu dekat, layanan mobile wallet akan mulai akrab bagi pengguna ponsel Indonesia. Peluang belanja berbagai kebutuhan lewat ponsel semakin terbuka lebar sejak Bank Indonesa memberikan izin penyelenggaraan layanan pembayaran non-tunai menggunakan ponsel atau mobile wallet kepada beberapa operator selular Indonesia. Antara lain Telkomsel lewat T-Cash dan Indosat melalui Dompetku.

Namun layanan uang elektronik (e-money) via ponsel tersebut dibatasi untuk transaksi maksimal Rp. 1 juta. Pasalnya, layanan mobile wallet yang digalang operator selulsar itu memang dikondisikan untuk pembayaran yang sifatnya kecil-kecil saja. Sebagai catatan, dinegara lain uang elektronik memang untuk pembayaran kebutuhan sehari-hari seperti pembelian makanan di restoran tertentu atau toko-toko tertentu.

Juni 17, 2008. Tag: , . Lifestyle, Snapshot. Tinggalkan komentar.